Showing posts with label Teman. Show all posts
Showing posts with label Teman. Show all posts

Sunday, April 15, 2012


Semester delapan yang berarti Tugas Akhir (TA), yang berarti saya akan menyudahi masa-masa perkuliahan. Tema yang sangat teramat saya inginkan adalah membuat publikasi buku tentang Songket Minangkabau. Saya sangat bersemangat dalam mencari segala artikel dan berbagai informasi. Dan proposal yang saya kerjakan yang paling niat tentang Songket Sumatera ini. Sedangkan 2 tema lainnya, saya kerjakan H-beberapa jam sebelum pengumpulan tema. 

Kenyataan berkata lain, kenyataan berkata bahwa tema yang saya sangat ingin-inginkan tidak terpilih. Agak sedikit kaget, karena yang terpilih malah judul ketiga saya, judul yang sama sekali belum saya cari informasinya, City Branding Sumatera Barat. Sempat bingung dan ingin mempertahakan tema yang saya inginkan, namun setelah berdiskusi dan meminta saran 5 dosen yang ada di kelas saya, akhirnya saya memutuskan untuk membuat tema yang dipilihkan dosen itu, ya saya memang labil.


"Branding itu seru lagi, siapa bilang kamu engga bisa bermain, coba kamu liat olympic, itu seru banget"


Berbekal tangan kosong dan sok menyemangati diri sendiri, mencari informasi ke Dinas Pariwisata, Anjungan Sumatera Barat TMII, Perpustakaan UI, dan ke Sumatera Barat-nya langsung.

Ini bagian yang paling saya senangi, jalan-jalan. Untung saja 2 teman saya Fandi Ahmad dan Rizky Radian juga mengambil tema yang berhubungan dengan Sumatera Barat. Dan kampung mereka juga di Sumatera Barat. Setelah meminta izin kepada ayah saya, saya dibolehkan berangkat. Pada awalnya ayah saya agak kaget dan khawatir. Ayah saya kira teman selama di SumBar adalah 2 orang perempuan. Tapi alhamdulillah tetap dibolehkan, dengan disana bakal diantar-antar oleh Mak Aciak dan Tante Evi.



Kami tiba di Kota Padang kira-kira pukul 8. Beruntungnya, om dan tante saya juga sedang ke Padang, dan kami bisa menginap di rumahnya. Tujuan saya ke Padang yaitu ingin berkunjung dan mencari data ke Dinas Pariwisata Sumbar. Hanya itu. Sisanya saya hanya ingin jalan-jalan (sambil mengamati tentunya). Saya baru pertama kali ke Siti Nurbaya Park. Di atas kita bisa melihat pemandangan pantai air manis, dan pulau-pulau kecil lainnya.

Di Padang, kami hanya 2 hari 1 malam. Ingin mencoba cendol patimura yang kata Eki enak banget, tapi sangat kurang beruntung, ketika sampai sana sudah tutup. Selanjutnya kami menuju Bukit Tinggi. Disana kami tinggal di trumah neneknya Fandi. Karena tidak enak dengan Mak Aciak dan Tante Evi yang bakal bersama kita terus. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunaka mobil Eki yang ada di Bukit Tinggi. Dan Mak Aciak dan Tante Evi bisa pulang kerumah masing-masing. Ayah saya sebenarnya tidak suka dengan ide ini. Tapi karena argumen yang kuat, alhamdulillah diperbolehkan.




Di Bukit Tinggi, kami berjalan-jalan pagi di sawah, pergi ke rumah sodara-sodaranya Fandi, melihat pembuatan keripik ubi (kalau engga salah), ke Ngarai Sianok, lubang Jepang, melihat kuda-kuda dan jalan-jalan ke pasar tentunya. Dan ini pertama kalinya saya makan makanan padang dengan lauk yang rame. Biasanya saya makan selalu kering, no kuah, no sambel, no sayur. Tidak seperti Fandi dan Eki, saya orang Padang KW10000. Tidak bisa bahasa padang, hanya bisa mengerti, itu juga hanya sedikit. Tidak hafal jalan-jalan di Padang, tempat-tempat seru di padang. 

Malam minggu kami habiskan di Taruko lalu ke Jam Gadang. Taruko adalah sebuah café yang pemandangannya adalah Ngarai Sianok. Mungkin ini adalah tempat gaulnya anak muda Bukit Tinggi, karena pegunjungnnya lumayan ramai. Lalu menuju Jam Gadang, malam minggu disana tenyata sangat ramai. Banyak sekali anak muda yang berkumpul dan berkelompok. Di satu sisi ada kelompok anak muda menari shuffling, disisi lain ada yang breakdance, rollerblade, dangdut. Dan ada satu bapak-bapak yang menarik perhatian saya, tidak ada yang melihat dia, tidak seramai anak muda yang dikerubungi. Bapak itu memainkan Saluang. Kontras, ironis.


Selama seminngu kurang (karena sewaktu di Pekanbaru kami berpisah ke rumah masing-masing) saya bersama Fandi dan Eki, ketawa-ketiwi, bersenang-senang, jalan-jalan, tidak terlupakan. Semoga saja TA saya lancar jaya selalu, di realisasikan kalau bisa (ngayal). Semoga seluruh mahasiswa tingkat akhir di beri kelancaran dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Amin


Teaser liburan yang dibuat oleh Fandi



Saturday, January 7, 2012



"Ma, uni mau pergi ke Bromo ya.."
"Ha?Baru juga pulang, kok udah pergi lagi. Jalan-jalan mulu"
"Yaa kan sebagai awal dari keliling Indonesia"
"Ya Allah, semoga anakku diberikan taufik dan hidayah"
":)"

Untung saja tidak hanya sekedar wacana. Berawal dari keinginan Nisul dan saya yang ingin ke Bromo dengan rencana awal hanya pergi berdua, namun seiring berjalannya waktu sembari mengajak yang lain, akhirnya terkumpul 11 orang pasukan yang menginginkan tahun baru di Bromo. Namun satu persatu mengundurkan diri yang akhirnya menyisakan 7 orang saja. Saya, Nisul, Opi, Nugi, Koko, Idham, dan Alif. 

Desember 29, 2011

Berkumpul siang hari di rumah Opi, berangkat menuju Terminal Senen dengan mencarter angkot. Kereta Kertajaya, pukul 15.00, kami berangkat, menyiapkan diri masing-masing untuk 14 jam lebih kedepan. 

"Sekarang sudah di berlakukan peraturan tidak ada tiket untuk yang berdiri de, ibu udah 12 tahun naik kereta ini,  kalau dulu ibu sampai duduk dilantai, dilangkah-langkahi sama anak muda, padahal ibu punya tiket. Pada ga sopan. Kalau sekarang udah pada di tarik-tarikin sama petugas"


Peraturan sudah diperketat, tidak seperti dulu waktu saya pergi ke Jogja. Banyak orang yang membayar petugas untuk mendapatkan apa yang bukan haknya. Duduk di lantai, dibawah kolong, berdempet-dempetan. Mudah-mudahan peraturan ini dijalankan untuk seterusnya.


Desember 30, 2011

Sekitar jam 7 pagi kami tiba di Surabaya, dikarenakan Koko mempunyai sodara disana, kami dipinjamkan mobil untuk pergi ke Bromo. Sebelum berangkata ke Bromo, kami makan siang di Soto Ayam Pak Djayus dan pergi ke rumah saudaranya Koko untuk bersih-bersih. Saya baru pertama kali ke Surabaya, ternyata udaranya lebih panas dari Jakarta, tidak ada angin, hanya matahari yang menyinari.

Entah pukul berapa kami berangkat ke menuju Bromo. Kami sampai disana sekitar jam 6 sore. Mencari penginapan yang sudah kami hubungi sebelumnya. Like a Pro,  saya hanya mengenakan leging, kaos, sweater, sendal. Saya tidak terbiasa dengan udara dingin, dan udara disana dingin sekali, super, sangat, sungguh. Mengisi perut di warung indomie, lalu berjalan-jalan sambil menunggu Pak Basor yang susah sekali di hubungi.

"Sebelumnya gw mau minta maaf, gw ga enak banget sama kalian"
"....hah?kenapa lif?"
"Gw mesti balik ke Jakarta sekarang, ada urusan"
"Lah lah lif, kan kita baru aja nyampe, belom juga naro barang, kenapa?emang mesti banget balik?"
"Iya, gw mesti udah ada di Jakarta jam 7 malem besok"
"Yaah Alif, masa lo cuma ngerasain capeknya doang, kita kan belom seneng-seneng"

Tiba-tiba saja Alif diharuskan sekali pulang ke Jakarta, entah apa penyebabnya (masih misteri sampai sekarang). Alif pulang malam itu juga, dengan memesan bis malam, dan turun menggunakan ojek. Akhirnya Pak Basor, Basro, Basir (entahlah siapa nama dia sebenarnya) bisa dihubungi. Lalu kami menuju rumah tempat kami menginap.

"Pembayarannya bisa dilunasi sekarang, tapi airnya masih mati ya, baru besok bisa dibenarkan"

Susah sekali menawar hingga mencapai harga yang diinginkan, mungkin dikarenakan menjelang tahun baru. Trik minta-tolong-kalau-kita-ini-masih-anak-kuliahan pun tidak mempan :3



Desember 31, 2011

Sudah direncanakan dari sebelumnya, bangun pagi hari ini sangat diharuskan. Pukul 5.30 kami keluar dari rumah, tapi sayangnya ini sudah terlalu siang. Matahari oranye yang menyengat sudah berada di sekian derajat. Hari ini kami berencana untuk naik keatas Bromo dengan berjalan kaki. 



"CEENDYYYYYYYY!!!"
"......."
(celingak-celinguk, bingung siapa yang manggil)
"Cendyyy!!"
(liat keatas, siapa tau Nicholas Saputra yang manggil)
"IQBAAAAAAAAAL, aaaa kok bisa ketemu siih. Lo sama siapaaa baal?"
(semangat+kaget tiba-tiba bisa ketemu temen, udah lama ga ketemu)
"Ini sama temen-temen gw"

Perjalanan menuju Bromo ternyata cukup melelahkan, kalau tidak salah ingat kurang lebih sekitar 2 jam-an kami berjalan. Dilihat dari atas sepertinya lumayan dekat. Namun realita berkata lain, mungkin yang saya lihat diatas tadi hanya ilusi. Ramai sekali diatas sana, seperti menunggu antrian di Dufan. Kuda-kuda, penjual, pengunjung. Ternyata naik tangga ke atas Bromo sangat membuat saya ngos-ngosan, maklum udah ga pernah olahraga (alibi).





Diatas Bromo yang kita bisa lihat kawah, pemandangan yang super, orang-orang yang terlihat seperti mainan. Duduk-duduk beristirahat ditempat yang tidak terlalu banyak orang. Ekstra hati-hati saja berjalan diatas, takut kecemplung ke kawah, dan iri melihat cewe di depan saya yang jalannya santai ibarat lagi jalan di Mall. 

"Lo abis dari mana baal?"
"Dari Ranu Kumbolo, rame banget disana, gw berempat sama temen gw"
"Iiih, seru banget sumpah. Kok Rika ga ikuut bal?"

Cepet juga dia naik keatas. Like a Pro, naik ke atas hanya mengenakan kaos. Kami memutuskan untuk turun lewat jalur yang lain, tidak menggunakan tangga, melainkan lewat pasir. Awalnya saya takut, karena tinggi dan miring. Apa kabar banget kalau saya tiba-tiba terguling sampai bawah. Jalan selangkah demi selangkah, sudah mulai terbiasa, lalu pada akhirnya lari-lari naik turun karena terlalu senang. Kami melewati pasir yang berbukit-bukit. Walaupun jarak yang ditempuh lebih jauh, namun sangat sangat sangat menyenangkan. Pada awalnya kami berencana untuk mengunjungi Pura pada saat pulang, namun karena menggunakan jalur yang berbeda, rencana itu pun gagal.


Perut sudah berbunyi, kami menuju tempat makan. Jalanan aspal yang super menanjak, dengan tenaga yang sudah minim. Tiba-tiba lewat motor dengan seorang laki-laki (aka tukang ojek), Nisul dan Opi. Banyak yang menawarkan ojek untuk naik keatas, dikarenakan rintik hujan sudah mulai turun.

Kami makan di warung Tante Tolly, rasa dan harganya lumayan memuaskan. Iqbal dan teman-temannya lewat, mereka ingin melakukan perjalan ke madiun. Sesudah makan kami berjalan-jalan sebentar, menikmati pemandangan Bromo dan Gunung Batok yang kata Nisul bentuknya kayak 3D.



Januari 1, 2012

Kami mengingkan melihat matahari pertama di tahun 2012. Jadi kami tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Suara kembang api pergantian tahun membangunkan saya, Nisul dan Opi. Suaranya terlalu dekat, kita seperti berada di tengah peperangan. Kami pun keluar, ternyata kembang apinya dinyalakan di dekat rumah yang kami inapi. 

Kami sudah bangun dari pukul 2 pagi, namun kami baru bisa berangkat ke penanjakan sekitar jam 4 dikarenakan Jeep yang kami sewa telat datang. Entah berapa derajat, tapi dingin sekali. Jeep berhenti di tempat parkir, dan kami pergi keatas dengan berjalan kaki, banyak kuda yang disewakan. Ternyata ke atas penanjakan lebih melelahkan dan seolah-olah tak ada ujungnya. Apa kabarnya kalau saya naik gunung, mungkin saya adalah orang yang ditinggal di tengah perjalanan.



Diatas ramai sekali, dan sangat disayangkan mataharinya tertutup oleh awan, walaupun tidak seluruhnya. Mataharinya tidak sebagus kemarin. Puas menikmati sunrise dan mengabadikan momen, kami pun turun ke jalan yang tak berujung itu. Tujuan selanjutnya adalah padang rumput. Lebih dikenal dengan padang teletubbies, karena bentuknya seperti halaman rumah 4 bersaudara/sekawan itu.
Keindahan yang tidak bisa saya ungkap dengan kata-kata. Hijau hijau dan hijau. Kami mencari lokasi untuk berpiknik dengan tikar yang Nugi sudah bawa dari Jakarta, bekal seadanya kami bawa dari penginapan. Jalan-jalan, melihat pemandangan yang sangat jarang saya lihat, bercakap dengan alam. Awalnya kita berencana kesini dengan berjalan kaki, untuk saja tidak jadi, karena ternyata jaraknya sangat jauh.




Bapak supir menyampiri, karena kami sudah terlalu lama disini. Menuju ke atas, kabut sudah mulai turun. Padang pasir tertutup oleh kabut. Saya hanya bisa kagum sambil menikmati. Kami menuju warung tante tolly untuk makan siang.

"Cen, iqbal siapa?"
"Iqbal siapa sul?Iqbal Aditya?Iqbal Mughniy?"
"Bukan, Iqbalxramadhan tuh siapa?si Varyan nge tweet RIP"
"......."

Shock. Iqbal Ramadhan, saya baru bertemu kemarin. Masih bercanda-canda gombal. Masih jelas ingatan saya. Setelah mencari informasi, ternyata benar. Terjadi kecelakaan di Surabaya-Madiun yang menewaskan Iqbal dan satu orang temannya. Perasaan saya campur aduk masih tidak percaya. Memang ajal bisa datang kapan saja, satu pertanyaan saya, tapi kenapa?

"Selamat tahun baru Iqbal, selamat menempuh hidup baru disana :') "



Januari 2, 2012

Hari terakhir kami berada di Bromo. Kurang tidur dan berencana bangun siang, namun saya terbangun di pagi hari. Jalan-jalan sendiri menikmati matahari pagi. Hari ini sudah sepi, tidak seperti kemarin yang ramai seperti Dufan. Kami berencana menuju surabaya pada siang hari. Mandi pada hari ini entah mengapa jauh lebih dingin daripada hari kemarin. Kalau kemarin saya masih bisa mandi sambil bernyanyi-nyanyi, namun kali ini saya mandi hingga badan saya berasap. Mungkin ini adalah mandi dengan air terdingin yang pernah saya lakukan. 




Di Surabaya, kami menginap dirumah Pak De & Buk De nya Nugi. Sebelum kesana, kami menuju Ampel.  Sebenarnya tujuan kami bukan kesini, awalnya kami ingin ke Kya-Kya, namun ternyata disana sudah tutup. Kawasan Ampel adalah kawasan serba islam, banyak pedagang yang menjual berbagai macam barang-barang islami, kurma dan lain lain. Saya suka tempat tinggal disana, rumahnya berdempetan, seperti rumah yang ada di sitkom Suami-suami Takut Istri, gemes. Kami makan di Depot Al Mutlik yang menyediakan makanan khas Timur. Kambing ovennya lembut bukan main. 



Januari 3, 2012

Sebenarnya kami hari ini berencana makan es krim sambil duduk-duduk lucu di Zangrandi. Kurang beruntung, ternyata Zangrandi tutup di hari selasa. Hari ini adalah hari terakhir kami di Surabaya. Kali ini kami melewati jalur selatan menggunakan kereta gaya baru malam. Jalur selatan lebih jauh daripada jalur utara yang kita lewati sewaktu berangkat. Pukul 14.00, perbekalan untuk 16 jam kedepan pun udah disiapkan. TTS yang saya beli sewaktu berangkat masih banyak yang kosong. Perut sudah terisi dan kami pun memulai perjalanan menuju Jakarta.

Ditengah perjalan, tiba ada bapak dan anak yang duduk di tempat kami. Saya dan Nisul udah saling melihat, karena gelagat bapak itu sangat aneh. Celingak-celinguk seperti mencari sesuatu, tiba-tiba saja dia masuk ke kolong bangku saya. Masih ada saja yang nekat tanpa tiket. Peraturan dibuat memang untuk dilanggar (?)


Januari 4, 2012

Sekitar pukul 8 pagi kami sampai di Jakarta, Alhamdulillah saya bisa tertidur pulas di dalam kereta. 

"Ngasih ga ngasih yang penting senyum, mbeeek"
(Mbek?kenapa mesti ada suara kambingnya, hahaha)

"Ada kaos kaki, 10 ribu tiga, anti peluru, anti pecah, anti karat"

Perjalanan penutup tahun dan awal tahun ini sangat menyenangkan. Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan pemandangan yang tiada duanya. Juga karena masih di berikannya banyak kesempatan di tahun 2011 ini untuk saya melihat dunia luar Jakarta. Mudah-mudahan di Tahun 2012 ini saya masih diberikan kesempatan dan rezeki agar bisa melihat keindahan yang lainnya. Tibet mungkin?

Amin




Thursday, December 22, 2011



Yang patut disyukuri adalah saya masih bisa diberi kesempatan untuk merasakan liburan, Bali. Kali ini saya berlibur dengan 3 orang teman dekat saya; Sakha, Ano, Evelyn (FYI: mereka masih single).  Liburan kali ini saya nobatkan sebagai "Liburan Terasyik 2011". Mengapa asyik, karena hampir semua dari to-do-list yang Ano buat terpenuhi dan saya merasa senang luar biasa pada liburan kali ini.



Satu



Kami berangkat dari Bandung menggunakan Air Asia. Satu kata ketika saya sampai di bandara "Ini bandaranya?kok?". Kaget, bandara di Bandung ternyata mini kayak lego. Di pesawat ada seorang anak kecil yang gantengnya luar bisa, namanya Raka. Mungkin kalau sudah besar nanti bakal saya pacarin, biar kayak Yuni Shara dan Rafi Ahmad.

Kami sampai di Bali, sekitar jam 7-an. Kami langsung menuju penginapan, untungnya penginapan yang kami ingin inapi masih ada kamar kosong. Losmen Arthawan, permalam Rp 90.000, dapat sarapan, kamarnya lumayan dan ada kamar mandi didalamnya. Kami memesan 2 kamar, namun karena tema liburan kami ini adalah "Kebersamaan", jadi kami tidurnya tetap di satu kamar, dan kamar yang satu lagi dibiarkan kosong (karena kita tidak bisa kalau hanya memesan 1 kamar saja).

Setelah menaruh barang dan bersih-bersih, kita jalan-jalan dan bertemu dengan teman Eve yang tinggal di Bali, namanya Andi Pang. Kongkow-kongkow sebentar, terdengar musik dari bawah yang agak keras volume nya, dan ini sangat melekat di otak. Lagu Adelle - Someone Like You diputar tapi dengan versi Disco. Bayangkan!





Dua


Setelah kemarin berselnacar di dunia maya, mencari-cari informasi. Hari kedua kami memutuskan untuk pergi ke pantai Amed, yang berada di Timur Bali. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 5 jam (karena kecepatan kami hanya 50KM/Jam). Ini adalah pertama kalinya saya mengendarai+menjadi penumpang motor selama ini dan sejauh ini. Naik turun belak belok bukit.


Ditengah perjalanan kami menyempatkan ke Gua Lawa. Lawa yang artinya kelelawar dalam bahasa Jawa. Di gua itu memang banyak sekali kelelawarnya, yang baunya bisa bikin lu-ma-nyun. Disana kami berkenalan dengan penjaga pintu masuk, namanya Putu. Putu orangnya ramah dan baik sekali, gaul pula. Ngobrol-ngobrol sebentar, foto-foto, bertukaran akun jejaring sosial. Kami makan siang disebelah tempat wisata ini. Makanan yang ditawarkan serba tuna, namun cara pengolahannya berbeda-beda, enak banget, apalagi sate tunanya. Satu set dikenakan Rp 25.000.





Sesampainya di Amed, kita langsung mencari penginapan, karena badan sudah sangat lelah. Akhirnya kita menginap di Home Stay Manis (Pak Mangku-081915676892). Penginapan kali ini sangat memuaskan, harga satu kamarnya Rp 180.000 dan boleh berempat.

Kami makan malam di Pacha Restaurant. Disana terdapat live music ber-genre Reggae. Awalnya restoran ini sepi, namun semakin malam, semakin banyak yang datang. Kami berkenalan dengan orang-orang disana ada Joli, Benny, Brata, Krilin (si bule Jerman), dll (saya lupa nama-namanya). Menari-nari sok asik diiringi musik Reggae, melupakan kelelahan perjalanan kita yang cukup jauh.






Tiga

Bangun lebih pagi dengan tujuan ingin melihat matahari terbit. Pergi ke pantai tapi ZONK! ternyata kami salah spot. Yasudahlah, mau diapakan lagi, duduk-duduk sebentar sambil menghirup udara pagi, lalu kami kembali ke penginapan. Yang lain pada kembali tidur, sedangkan saya memilih duduk-duduk lucu di gazebo dan mengobrol dengan Pak Mangku. Pak Mangku ini orangnya baik sekali, beliau menanyakan kabar kami apakah selamat sampai tujuan (ketika keluar dari Amed dan ketika ingin ke Jakarta). Kata pak Mangku, kebanyakan yang memiliki penginapan di Amed adalah orang-orang Belanda dan yang sering berkunjung adalah orang perancis. Katanya masih jarang orang lokal yang kesana.

Jam 9 kami kembali ke Pacha untuk bertemu dengan Joli, dia berjanji untuk menjadi tourguide disana.  Kami menuju pantai Banyuninh, kata Joli, disana terdapat bangkai kapal Jepang yang menjadi karang-karang yang indah.





Setelah sampai disana dan masuk ke dalam air untuk bersnorkling ria, UWOW, airnya jernih sekali, belum ada 5 meter  dari pantai sudah ada ikan-ikan berwarna warni, 10 meter sudah keliatan karang-karangnya, 20 meter sudah keliahatan karangnya. Kita tidak perlu menggunakan kapal ketengah lautan untuk melihat terumbu karangnya. Hanya dengan modal bisa berenang, saya bisa menikmati keindahan laut.

Sesudah puas melihat ikan-ikan gemes, lalu kita lanjut untuk makan siang di Warung Bali (Kadek-087861189197).  Perut sudah di manjakan, saatnya berpisah dengan Joli, Bu Manis, Pak Mangku, karena kami harus melanjutkan perjalanan kami. 




Tujuan selanjutnya, Ubud. Hari sudah malam, kurang lebih kami menempuh 3 Jam perjalanan yang cukup melelahkan dan cukup kedinginan (karena kita sempat kehujanan dan harus berteduh di warung yang ada di pinggir jalan). Setelah berputar-putar mencari penginapan, akhirnya kita menemukan penginapan yang sesuai dengan budget kami, Anugerah House. Awalnya harga yang ditawarkan tidak pas, namun setelah mohon-minta-tolong-dimaklumin-karena-kami-ini-masih-anak-kuliah-an akhirnya kami mendapatkan harga Rp 180.000/malam/kamar dan dibolehkan tidur ber-empat. Kami langsung tertidur pulas dan tidak makan malam karena oh badan ini sudah tidak kuat untuk beraktivitas.




Empat

Kata nya orang sukes bangun pagi, hari ke-empat saya (ter) bangun pagi, lapar belum diisi dari semalam. Setelah yang lainnya bangun dan menyuruput sedikit teh hangat. Kita langsung berangkat mencari sarapan. Berputar-putar menaiki DK BE dan DK EN (motor yang kita sewa) dan tidak menemukan tempat sarapan yang kita mau, akhirnya kita memutuskan untuk mengunjungin museum Antonio Blanco terlebih dahulu. "Maaf mba, museumnya baru buka jam 9". Kecewa, akhirnya kita memutuskan ke supermarket untuk sarapan. 

Kembali ke museum Om Blanco, pengunjung pertama pada pagi hari itu, mengeluarkan Rp 30.000 untuk membayar tiket masuk (dalam hati: mayan juga tiket masuknya). Tapi setelah keluar dari museum Om Blanco, senyum-senyum senang karena; satu, ada burung-burung gemes nan lucu yang bisa diajak-ajak foto. Dua, karya-karya Om Blanco inspiratif sekali. Tiga, Beli yang nge jagain, nemenin muter-muter dan karya-karya Om Blanco di jelasin. Empat, dapet minuman kopi caramel, tapi bentuknya kayak teh.




Setelah berlama-lama di museum Antonio Blanco, kami mengisi perut kami di restoran Icha, letaknya dekat supermarket Bintang yang tadi pagi kami kunjungi. Tempatnya kecil namun super nyaman, makanannya juga enak dan murah. Perut sudah penuh dan sudah mulai mengantuk, kami melanjutkan untuk berbelanja di pasar Ubud. Sayang waktu kesana kita kedapatan hujan, jadi agak berbecek-becek ria. Puas muter-muter dan ingin menunggu hujan reda, kami memutuskan untuk duduk-duduk cantik sambil makan es krim di seberang pasar (agak salah memang, hujan tapi makan eskrim). Hujan sudah reda dan kami kembali ke penginapan untuk mengambil tas yang kami titipkan. Lalu kami langsung menuju Kuta dan makan nasi pedes Bu Hanif yang sambelnya super sekali. Untung saja Losmen Arthawan masih mempunyai 2 kamar kosong, jadi kami tidak perlu mencari penginapan lagi.




Lima


Hari ini temanya "Santai kayak di pantai". Pertama kita ke Blue Point Beach, airnya subhanallah jernih sekali, banyak tebingnya, banyak batunya, namun kali ini saya tidak ada niat untuk melanjutkan belajar surfing episode 2. Dan lebih memilih untuk main-main air saja.




Setelah puas main air disini, kami melanjutkan ke Padang Padang Beach, letaknya tidak jauh dari pantai yang sebelumnya. Berleha-leha sambil membaca buku dibawah terik matahari. Rasanya surga-dunia-sementara. Banyak turis luar yang berjemur dan banyak turis lokal yang belanja. Makanan di sini rasanya standar, tapi karena lapar tingkat maksimal jadinya enak.

Sudah agak sore, kita beranjak dari pantai untuk bersih-bersih dan melanjutkan ke Pura Uluwatu untuk melihat pertunjukkan Tari Kecak. Untuk melihat pertunjukkan tari kecak dikenakan biaya sebesar Rp 70.000 dan Rp 3.000 untuk pintu masuknya. Mencari spot yang tepat agar dapat melihat sunset, tapi sayang sekali mataharinya ketutupan awan. Seru sekali menonton pertunjukan tari kecak, tapi sayang Dorothy sudah kehabisan tenaga, jadi saya tidak bisa mengabadikannya :(




Sepulangnya dari Uluwatu, kami merencanakan untuk makan di Jimbaran. Sweet sekali makan di pinggir pantai bareng teman-teman tersayang+angin laut yang kencang. Tiga perempat jalan kita makan, tiba-tiba saja hujan rintik-rintik. Akhirnya kami masuk ke dalam, suasana sweet nya hilang dan berubah menjadi suasana makan di rest area. Kekenyangan sampai lemas, lalu kami kembali menuju ke penginapan.


Enam


Hari ini kita ke Pasar Sukawati, muter-muter, belanja-belenji. Saya sudah bertekad untuk tidak boleh belanja. Namun oh-mengapa-sulit-sekali-menahan-hasrat-untuk-tidak-belanja. Akhirnya saya melepaskan uang saya untuk hal-hal yang ga penting tapi di penting-penting-in.

Pulang dari Sukawati kami berniat untuk makan di La Planca. Sudah muter-muter, tapi kok ga ketemu juga tempatnya. Kelelahan mencari, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan dan makan di Nasi Pedas Bu Hanif (lagi), hari ini kulit ayamnya tersedia, hore!


Tujuh


Dompet Evelyn hilang diambil orang kemarin. Semoga yang mengambil diberikan balasan yang setimpal. Amin. Karena harus mengurus surat hilang, kami bagi menjadi 2 tim. Saya bersama Evelyn ke kantor polisi. Sakha dan Ano muter-muter belanja-belenji.

Sesudahnya dari kantor polisi, saya menemani Evelyn ke Gereja untuk misa sore. Nama gerejanya St. Franciscus Xaverius. Perdana ke gereja dan pasturnya berbicara dengan bahasa inggris. Seusai misa, kami berdua menuju kopi pot untuk nyamperin ibu-ibu yang abis belanja. Sambil menunggu hujan yang cukup lebat, kami ngobrol-ngobrol dan saya tertidur.




Delapan

Hari terakhir di Bali, kami naik pesawat pukul 10.45 menuju Bandung. Liburan singkat sudah berakhir. dan kembali ke realita hiruk pikuk Jakarta. Walaupun singkat namun berkesan, seru, menyenangkan, banyak cerita, pengalaman baru, teman baru dan lain lain lainnya. Mari menabung dan rencakan liburan selanjutnya! Yeah! :D